Kegelapan dini hari mencengkeram desa, hawa dingin menusuk tulang seiring nyanyian jangkrik malam, merajut kesunyian malam. Di tengah keheningan yang menyesakkan itu, sebuah drama kehidupan tengah bersemi.
Di sebuah rumah sederhana, sepasang jiwa yang terikat janji suci tengah bergulat dengan takdir. Sang suami, pemuda Bugis dengan tatapan penuh harap bercampur cemas, menggenggam erat tangan istrinya. Di sampingnya, sang istri, perempuan berdarah Tionghoa yang anggun, merintih menahan gelombang sakit yang kian dahsyat.
Perjuangan melahirkan sang buah hati pertama mereka menjadi medan pertempuran yang sunyi nan heroik. Setiap kontraksi adalah gelombang badai yang menguji ketahanan cinta dan harapan mereka. Di antara desah napas yang tertahan dan bisikan doa yang lirih, waktu terasa berjalan begitu lambat, mengulur-ulur sebuah kepastian yang dinanti dengan cemas.
Di balik dinding bambu yang rapuh, takdir seorang bayi tengah diukir. Akankah fajar menyingsing membawa tangisan bahagia, ataukah malam akan terus mencengkeram dengan kesunyian yang lebih pekat? Hanya waktu yang dapat menjawab misteri kelahiran di tengah dinginnya dini hari itu, di mana dua budaya berpadu dalam sebuah penantian yang mendebarkan.
Tidak berlama-lama mereka segera melaju dengan motor butut nya beranjak ke rumah salah seorang sandro yang cukup dikenal di kampung tersebut, pasangan tersebut sampai di tujuan dengan selamat dengan kelahiran yang sempurna seorang anak perempuan yang cantik.
Prosesi kelahiran tersebut cukuplah cepat karena tidak ada masalah dengan kandungannya, karena persalinan yang normal pemulihan pasca persalianan pun cukup cepat, waktu subuh pun tiba, pasangan tersebut diperbolehkan kembali kerumah untuk beristirahat dan memulihkan diri dirumah.
Kebahagiaan yang tiada tara membuat keluarga ini sangat kegirangan, tiba disuatu saat di tengah perjalanan motor mereka berpapasan dengan sebuah mobil pengangkut sayur mayur kemungkinan sopir mobil tersebut mengalami kantuk sehingga kecelakaan pun terjadi, ibu medekap bayi dengan erat yang terpental tidak jauh dan masuk kedalam parit, tetapi sang ayah tidak tertolong karena menglami benturan keras pada kepala sehingga sebahagian wajahnya hancur, sopir yang menabrak tersebut merasa punya tanggung jawab sehingga menolong mereka bertiga membawa kepuskesmas terdekat.
Sesampainya di puskesmas ternyata istrinya pun tak tertolong karena mengalami pendarahan yang hebat, hanya sang bayi saja yang selamat.
Bayi tersebut di rawat oleh keluarga ayahnya, sehingga sampailah kabar duka tersebut pada keluarga sang istri yaitu adiknya di jepang, sehingga adiknya langsung berangkat ke indonesia untuk menjenguk kakaknya yang telah meninggal.
Dari sinilah kisah ini dimulai, karena alasan anak tersebut harus mendapatkan pendidikan dan perawatan yang layak sehingga anak tersebut berhasil di bawa kejepang oleh pamannya demi kebaikan masa depan anak tersebut.
Vheyranda Jessica Lee, lahir pada 7 Februari 1988 di Sulawesi Selatan, Maros, dari pasangan Ayah Bugis dan Ibu keturunan Tionghoa.
Komentar
Posting Komentar