Perpisahan itu terjadi tepat saat usia Vheyranda menginjak dua puluh tahun, sebuah titik balik yang getir di tengah suasana duka atas kepergian pamannya. Hiromi Hamada, pria yang semula adalah sahabat karib sang paman, memutuskan untuk mengakhiri pernikahan mereka.
Di balik surat cerai itu, tersembunyi sebuah janji suci kepada mendiang paman Vheyranda, Hiromi ingin membebaskan istrinya dari bayang-bayang perlindungannya agar wanita itu bisa berdiri di atas kakinya sendiri dan meraih kesuksesan yang murni.
Namun, bagi Vheyranda, kebebasan itu terasa seperti pengkhianatan. Ia membenci keputusan sepihak Hiromi, merasa dibuang di saat ia paling membutuhkan sandaran. Karena tak sanggup melihat luka di mata istrinya, Hiromi memilih mengalah dan menetap jauh di Kyoto. Namun, raga yang menjauh tak berarti hati yang melepas; dari kejauhan, Hiromi diam-diam terus menjaga keselamatan serta kelangsungan hidup Vheyranda dan putri kecil mereka, Haruka, tanpa pernah menampakkan diri.
Tak lama berselang, Vheyranda mencoba peruntungan dengan melamar pekerjaan di sebuah media cetak ternama di Distrik Toshima. Ia tidak pernah menyadari bahwa perusahaan besar tersebut sebenarnya terdaftar atas nama dirinya dan Hiromi. Di sana, para pemangku kebijakan yang merupakan keluarga besar Hamada telah diinstruksikan dengan ketat, rahasiakan status kepemilikan ini. Mereka membiarkan Vheyranda berjuang dari bawah agar ia tumbuh menjadi sosok yang tangguh dan mandiri melalui kerja kerasnya sendiri.
Kini, Vheyranda menjalani hari-harinya sebagai ibu tunggal yang gigih. Ia mendedikasikan waktunya sebagai staf editorial di sebuah majalah fesyen anak muda, sekaligus merangkap sebagai model foto paruh waktu. Kecantikannya yang khas dan etos kerjanya yang tinggi membuatnya perlahan mulai dikenal di industri tersebut.
Perjalanan hidup Vheyranda memang penuh liku sejak kecil. Sebagai seorang yatim piatu yang tumbuh besar di Jepang, ia telah memegang status Permanent Resident sejak dini. Pemerintah Jepang pun memberikan perlindungan penuh hingga ia berusia delapan belas tahun, memberikan kebebasan baginya untuk menentukan kewarganegaraan saat ia dewasa nanti.
Di bawah langit Tokyo, Vheyranda kini terus melangkah, tidak menyadari bahwa setiap keberhasilan yang ia raih adalah buah dari ketangguhannya sendiri, sekaligus doa yang dijaga oleh seseorang dari kejauhan.
Komentar
Posting Komentar