Di bawah gurat langit Tokyo yang tak pernah benar-benar gelap, Vheyranda menjalani hidup layaknya sebuah mesin yang dipaksa melampaui batas rotasinya. Pagi harinya dimulai dengan deru kereta komuter yang sesak, di mana ia harus menanggalkan perannya sebagai ibu sejenak untuk menjadi editor di sebuah majalah fesyen ternama. Di balik meja kantor yang penuh tumpukan draf, ia menyunting tren anak muda dengan ketelitian tingkat tinggi, memastikan setiap kata dan visual tampak sempurna bagi publik, meski di balik riasan wajahnya sendiri tersimpan kantung mata yang mulai menghitam akibat kurang tidur.
Ketika matahari terbenam, ritme hidupnya tidak melambat, melainkan seakan berpindah gigi. Sesekali ia berdiri di depan lensa kamera sebagai model paruh waktu, memamerkan busana "avant garde" dengan tatapan dingin yang elegan, sebuah topeng profesional yang menyembunyikan rasa lelah di tulang punggungnya. Tokyo bukanlah kota yang ramah bagi mereka yang berhenti melangkah; biaya sewa apartemen yang mencekik dan harga kebutuhan pokok yang terus meroket memaksa Vheyranda untuk terus menjual setiap detik waktunya demi angka-angka di saldo tabungan.
Malam yang kian larut membawanya ke sebuah diskotik di jantung Kabukicho Shinjuku, tempat ia bertransformasi menjadi seorang disc jockey. Di balik perangkat turn table, jemarinya menari lincah mengolah musik elektronik, sesekali menyisipkan vokalnya yang jernih di sela-sela beat yang menghentak. Di tengah dentuman bass dan lampu neon yang menyilaukan, Vheyranda seolah menemukan katarsis; ia meramu energi kerumunan orang asing menjadi bahan bakar untuk bertahan hidup, meski jiwanya sering kali merindukan keheningan rumah.
Alasan di balik semua kegilaan jadwal ini adalah sesosok gadis kecil yang kini tengah terlelap dan menunggu dirumah. Anak perempuannya adalah pusat gravitasi bagi dunia Vheyranda yang kacau. Setiap yen yang ia kumpulkan dari keringat di kantor, pose di studio, hingga bisingnya kelab malam, semuanya didedikasikan agar putrinya bisa mendapatkan pendidikan terbaik dan masa depan yang tidak sekeras aspal Tokyo. Baginya, rasa lelah adalah harga yang murah untuk membayar senyum anaknya di pagi hari saat mereka sempat sarapan bersama dalam waktu yang singkat.
Hidup sebagai orang tua tunggal di kota megapolitan ini memang menuntut pengorbanan yang nyaris tidak manusiawi. Namun, di tengah tekanan standar sosial dan tuntutan kerja yang tiada habisnya, Vheyranda menolak untuk menyerah pada keadaan. Ia adalah bukti hidup bahwa cinta seorang ibu mampu mengubah kelelahan menjadi ketangguhan, dan mengubah kerasnya beton Tokyo menjadi fondasi yang kokoh bagi mimpi buah hatinya.
Komentar
Posting Komentar