Langsung ke konten utama

6 - Kepergian Aiko v2


04 Mei 2025 (9:20). Hari ini langit seakan ikut berduka. Aiko merupakan cahaya kecil yang tumbuh menjadi sosok yang begitu dicintai, pergi untuk selamanya dalam keheningan laut Italia, tempat ia mengukir mimpinya dalam menempuh pendidikan untuk meneruskan bisnis orangtua angkatnya.

Kepergiannya begitu tiba-tiba, sebuah insiden yang memilukan saat menyelam bersama ibunya vheyranda, tabung oksigen yang bocor di kedalaman yang tak terpantau, membuat waktu seolah-olah berhenti, tak ada cukup waktu untuk menolong, tak ada cukup kata untuk mengerti cuman pilu yang menyayat hati.

Vheyranda, yang menyelam bersamanya namun terpisah jarak, hanya bisa merasakan hantaman sunyi yang menggema, rasa bersalah dan kehilangan begitu dalam menggores jiwanya, menyisakan luka yang tak kasat mata namun tak kunjung sembuh.

Hiromi, ayah angkat yang telah membesarkan Aiko sejak usia empat tahun, datang secepat mungkin dari kyoto, haruka dan cahya pun segera berangkat dari tokyo, hanya ada kesempatan terakhir melihat walau sudah tak bernyawa, Hiromi hanya bisa berdiri di antara air mata dan kenangan, memeluk bayangan seorang anak yang dulu memanggilnya "Ayah" dengan mata penuh cinta.

Aiko bukan sekadar anak angkat, Ia adalah pelita dalam hidup Hiromi dan Vheyranda, hadir sebelum Haruka anak kandung mereka lahir, membawa kehangatan dan harapan yang tak tergantikan. Kehilangannya bukan hanya tentang kepergian, melainkan tentang hati yang kini selamanya kehilangan bagiannya.

Aiko dikebumikan di kyoto 7 mei 2025 10.00 AM karena di tokyo tidak memungkinkan, atas permintaan ayahnya Hiromi sebagai penghormatan terakhir untuk anak yang dia cintai. 

Suasana pemakaman Aiko dipenuhi isak tangis yang memilukan. Vheyranda, ibunda tercinta Aiko, tampak begitu rapuh, belum mampu menerima kenyataan pahit bahwa putrinya telah pergi untuk selamanya. Rasa kehilangan ini terasa begitu berat, bagai luka yang menganga lebar di lubuk hatinya, seolah olah merenggut seluruh kebahagiaan yang pernah ada. 

Di sisi lain, keluarga besar Hamada pun diliputi duka yang mendalam. Aiko, dengan segala keceriaan dan kehangatan hatinya, adalah permata keluarga, sosok yang sejak belia telah menjadi sumber kasih sayang dan kebanggaan.

Kenyataan bahwa Aiko pergi di usia yang begitu muda, baru menginjak 24 tahun, menghantam keluarga bagai petir di siang bolong. Masa depan cerah yang seharusnya terbentang di hadapannya kini sirna tak berbekas, meninggalkan luka yang teramat dalam di setiap hati yang mencintainya.

Kepergiannya yang begitu tiba-tiba meninggalkan kehampaan, sebuah ruang kosong yang tak mungkin lagi terisi, mengiringi langkah mereka dalam menjalani hari-hari selanjutnya.

Hari ini hari dimana Aiko dikebumikan, perjalanan jauh mengiringi kepulangan dari Italia ke Kyoto menjadi penyeka rasa rindu, Vheyranda tanpak sudah ikhlas, Cahya dan Haruka adalah adik adiknya begitu dekat dengan jazad Aiko serasa tak ingin berpisah dengan momen terakhir mereka bersama, mereka memandang wajah Aiko yang tanpak begitu cantik seperti sedang tertidur pulas.

Banyak cerita yang mereka kenang, mulai dari kisah lucu sampai ke kisah sedih semasa hidup Aiko yang mereka ketahui, hanya Ayahnya yang tanpak tak pernah membuka pembicaraan.

Hiromi adalah sosok yang pendiam, tetapi perasaan sedih nampak jelas di wajahnya, sesekali Haruka memeluk ayahnya memberikan rasa kuat, walau Aiko bukan anak kandungnya tetapi Aiko adalah sosok anak angkat yang menghiasi kisah hidup mereka sebelum Haruka lahir, anak yang manja dan sangat disayang oleh ayahnya, anak yang menurunkan bakat ayahnya sebagai seorang kyudo yang handal.

Sesampainya di kyoto keluarga besar Hamada sudah menyiapkan acara pemakaman, tanpak tantenya Mayasako begitu aktif berkomunikasi dengan pengurus masjid Kyoto karena acara pemakaman akan dilaksanakan secara islami, mulai dari memandikan janazah sampai shalat jenazah, hanya Hiromi yang ikut serta dari keluarga Hamada dikarenakan keluarga besar mereka menganut kepercayaan Shinto.

Kesedihan Mayasako terpancar dari raut wajahnya, Aiko dan Mayasako hanya berbeda beberapa tahun walau berstatus sebagai tante tetapi mereka tumbuh kembang bersama, mereka sekolah bersama bahkan berkarir bersama, seakan mereka adalah anak kembar yang tak ingin dipisahkan, kepergian Aiko membuat Mayasko sangat terpukul, tak ada hari tanpa berdua sebegitu dekatnya, bahkan di musim dingin tidak pernah terlewatkan mereka berdua pasti pulang ke Kyoto untuk kumpul bersama keluarga, Aiko adalah sosok penyemangat keluarga Hamada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kematangan dalam berkarir

Disaat Vheyranda menapaki usia dua puluh satu tahun dengan ambisi yang membara di balik dinding-dinding megah University of Tokyo. Ia bukan sekadar mahasiswi yang tenggelam dalam tumpukan buku tebal, melainkan seorang pengejar kebenaran yang mulai meniti karier sebagai jurnalis paruh waktu di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan tersebut. Hari-harinya adalah perpaduan ritme yang melelahkan antara ruang kelas yang penuh dengan teori akademis dan lapangan tugas yang menuntut kecepatan berpikir serta insting tajam. Vheyranda belajar untuk menyeimbangkan dua dunia; di satu sisi, ia adalah penuntut ilmu yang disiplin, sementara di sisi lain, ia adalah pemburu berita yang tak kenal lelah, meliput berbagai isu sosial di sudut-sudut Tokyo yang mungkin luput dari perhatian publik. Ketekunannya itu tidak sia-sia, karena perlahan namun pasti, ia membangun reputasi sebagai sosok yang gigih, hingga pada akhirnya, di usia dua puluh enam tahun, dedikasinya diganjar dengan posisi sebagai jurnalis penu...

Tokoh klasik Mia Pade dan Wekoila

Mia Pade adalah salah satu tokoh legendaris dalam sejarah dan budaya masyarakat di Konawe, Sulawesi Tenggara. Dalam tradisi lisan masyarakat setempat, Mia Pade dikenal sebagai seorang pemimpin perempuan yang bijaksana dan memiliki peran penting dalam proses mediasi dan penyelesaian konflik. Nama Mia Pade sering dikaitkan dengan nilai-nilai kebijaksanaan, keadilan, dan kemanusiaan. Ia dihormati karena kemampuannya untuk mendamaikan perselisihan antara kelompok atau komunitas yang berbeda di wilayah Konawe pada masa lalu. Kisahnya menjadi bagian dari warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun melalui cerita rakyat, nyanyian, dan ritual adat. Dalam beberapa versi cerita, Mia Pade juga digambarkan sebagai simbol kekuatan perempuan di tengah masyarakat yang cenderung patriarkal. Namanya sering kali digunakan sebagai inspirasi dalam berbagai kegiatan budaya, pendidikan, dan bahkan politik lokal di Konawe. Walau mempunyai kemiripan, Mia Pade dan Wekoila adalah dua tokoh yang berbed...

Sejarah wilayah Konawe

Perkembangan suku Tolaki, sangat terkait erat dengan sejarah wilayah Konawe dimana suku Tolaki sebagai penghuni asli wilayah tersebut. Konawe merupakan salah satu wilayah tertua di Sulawesi Tenggara yang memiliki jejak peradaban sejak masa pra-Islam, dengan struktur masyarakat yang telah terbentuk melalui kerajaan-kerajaan lokal. Awal mula nama "Konawe" berasal dari dua kata dalam Bahasa Tolaki, yaitu "Kona" yang berarti "tanah" dan "We" yang berarti "air." Nama ini mencerminkan kekayaan alam wilayah tersebut yang subur dan didukung oleh banyak sumber air, seperti Sungai Konaweha, yang menjadi pusat kehidupan masyarakat. Konawe pernah menjadi pusat pemerintahan sebuah kerajaan yang didirikan oleh Mia Pade , seorang tokoh legendaris dalam sejarah Konawe. Kerajaan Konawe diperkirakan berdiri pada abad ke-15, sebelum masuknya pengaruh Islam ke Sulawesi Tenggara. Struktur Pemerintahan saat itu adalah,  Monarki Tradisional: Kerajaan Konawe...