Tanggal 4 Mei 2025 menjadi garis hitam yang membelah hidup Vheyranda antara "sebelum" dan "setelahnya". Di bawah beningnya air laut Italia yang seharusnya menjadi saksi liburan sekolah yang indah, maut datang tanpa permisi. Sebuah insiden teknis pada tabung oksigen di kedalaman yang sunyi membuat Aiko terjebak dalam kesenyapan abadi; bantuan tak sempat datang karena jarak yang terpaut dan mata yang tak kuasa memantau setiap inci arus bawah laut.
Vheyranda, yang saat itu juga berada di bawah air namun terpisah jarak, membawa pulang beban yang jauh lebih berat dari sekadar tabung oksigen kosong: rasa bersalah yang menghujam jantungnya. Baginya, setiap embusan napas yang ia hirup kini terasa seperti pengkhianatan terhadap Aiko yang kehilangan oksigennya di dasar laut Bologna. Tekanan jiwa yang dahsyat menyeret Vheyranda ke dalam palung depresi yang gelap, membuatnya kehilangan pegangan pada kenyataan hingga dunia di sekitarnya terasa kabur dan hampa.
Kepergian Aiko adalah luka lama yang terbuka kembali dengan cara yang paling kejam. Aiko hadir di hidup mereka saat masih berusia empat tahun, sebuah anugerah adopsi yang mengisi sudut-sudut kosong di hati Vheyranda dan Hiromi jauh sebelum Haruka lahir ke dunia. Kehilangan anak pertama, meski tak terikat darah, memberikan pukulan yang merontokkan seluruh pertahanan ego mereka. Haruka, yang harus mendewasa sebelum waktunya di tengah kekacauan itu, langsung menghubungi ayahnya di Kyoto dengan suara bergetar, memohon kehadiran sang pelindung.
Hiromi bergegas meninggalkan ketenangan Kyoto menuju hiruk-pikuk Tokyo, lalu bersama Haruka dan Cahya, mereka terbang menembus awan menuju Bologna. Kedatangannya bukan sekadar untuk menjemput jenazah, melainkan untuk menjadi jangkar bagi Vheyranda yang tengah karam. Di tengah isolasi batin istrinya yang parah, Hiromi hadir dengan ketabahan seorang ayah angkat yang juga hancur, namun harus tetap berdiri tegak demi sisa keluarga yang masih bernapas.
Akhirnya, atas permintaan tulus Hiromi sebagai penghormatan terakhir bagi putri kesayangannya, Aiko dibawa pulang ke tanah Kyoto. Di kota yang tenang itulah, jauh dari kebisingan Tokyo yang tak kenal ampun, Aiko dikebumikan dengan khidmat. Di bawah naungan pohon-pohon yang sakral, Aiko beristirahat dalam damai, meninggalkan Vheyranda yang kini harus belajar berjalan kembali di atas puing-puing hati yang patah.
Komentar
Posting Komentar