Langsung ke konten utama

Perhitungan BMKG dan Algoritma Google Gemini Ai mengenai Hilal

Iseng bertanya pada Ai mengenai teknis perhitungan hilal dan tentu ini sangat menarik karena melibatkan data presisi tinggi dari sisi sains (BMKG) dan data pengolahan algoritma (google gemini). Berikut adalah rincian teknis mengenai visibilitas hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 H:

1. Data Teknis BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)

​Berdasarkan data hisab BMKG untuk pengamatan yang dilakukan kemarin petang (Kamis, 19 Maret 2026), kondisi astronomisnya adalah:

• ​Ketinggian Hilal: Berkisar antara -0,64° di Merauke hingga 0,84° di Sabang. Secara teknis, ini sangat rendah dan berada di bawah ufuk atau nyaris sejajar dengan garis cakrawala.

• ​Elongasi: Jarak sudut antara Bulan dan Matahari berada di rentang 2,15° sampai 2,59°.

• ​Umur Bulan: Saat matahari terbenam kemarin, umur bulan baru sekitar 2 hingga 5 jam.

• Kesimpulan BMKG: Secara fisis-astronomis, hilal mustahil untuk dilihat (Imkanur Rukyat tidak terpenuhi) karena cahayanya masih terlalu lemah dan tertutup oleh cahaya senja (syafaq).

2. Analisis Visibilitas Menurut Teknologi AI

​Dalam menganalisis visibilitas, sistem Ai google gemini, memproses model matematika yang mempertimbangkan kontras cahaya. Berikut adalah poin hasil analisanya:

• Faktor Kontras (Luminansi)

Cahaya hilal hanya akan terlihat jika tingkat kecerahannya melebihi ambang batas cahaya latar langit setelah matahari terbenam. Dengan elongasi hanya sekitar 2°, bagian bulan yang memantulkan cahaya matahari (fix-angle) sangat tipis, sehingga sensor optik tercanggih sekalipun akan kesulitan membedakannya dari gangguan atmosfer.

Gangguan Atmosfer

Algoritma Ai Goole Gemini memperhitungkan ketebalan atmosfer di ufuk rendah. Pada ketinggian di bawah 3°, cahaya bulan harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal, yang menyebabkan pelemahan cahaya (ekstingsi) dan pembiasan yang tinggi.

Kesimpulan Analisis Sistem

Secara objektif, probabilitas visibilitas hilal pada Kamis petang adalah 0% (Mustahil). Oleh karena itu, secara sistemik, hasil yang paling akurat adalah menggenapkan bulan Ramadan menjadi 30 hari, sehingga 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

​Maka timbul pertanyaan baru yang membuat saya sedikit penasaran, 

Kenapa Hisab Wujudul Hilal berbeda dengan hitungan BMKG? 

Perbedaan ini sebenarnya bukan karena salah satu pihak salah menghitung posisi bulan, melainkan karena kriteria "batas aman" yang mereka gunakan berbeda. Secara matematis, baik BMKG maupun Muhammadiyah (yang menggunakan Wujudul Hilal) melihat angka yang sama, namun kesimpulannya berbeda.

​Berikut adalah perbandingannya agar lebih mudah dipahami:

1. Hisab Wujudul Hilal (Prinsip Kepastian Matematis)

Metode ini digunakan oleh Muhammadiyah. Prinsip utamanya adalah asal bulan sudah "ada" (wujud), maka bulan baru sudah dimulai.

• ​Syarat Utama: Tiga hal harus terjadi secara berurutan:

1. ​Konjungsi (Ijtima') sudah terjadi sebelum matahari terbenam.

2. Matahari sudah terbenam.

3. ​Saat matahari terbenam, posisi bulan berada di atas ufuk (meskipun hanya sedikit, misalnya 0,1°).

• Kesimpulan: Karena pada Kamis petang kemarin posisi bulan sudah berada di atas ufuk (walaupun sangat rendah), maka menurut metode ini, Ramadan sudah selesai dan hari ini adalah Lebaran.

2. Kriteria MABIMS/BMKG (Prinsip Visibilitas Logis)

​BMKG dan Pemerintah menggunakan kriteria yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Prinsipnya adalah hilal tidak hanya harus "ada", tapi harus mungkin untuk dilihat (Imkanur Rukyat).

• Syarat Utama: Berdasarkan penelitian astronomi bertahun-tahun, hilal mustahil dilihat mata manusia atau teleskop jika posisinya terlalu rendah. Syarat minimalnya adalah:

- ​Ketinggian Hilal: Minimal 3°.

Elongasi (jarak sudut): Minimal 6,4°.

• Kondisi Kemarin: Posisi bulan kemarin hanya berada di kisaran 0° hingga 1°. Artinya, meskipun bulan secara matematis "sudah ada", cahayanya masih terlalu redup dan tertutup silau matahari (syafaq) sehingga tidak mungkin terlihat.

• Kesimpulan: Karena tidak mungkin dilihat, maka bulan Ramadan digenapkan (Istikmal) menjadi 30 hari.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kematangan dalam berkarir

Disaat Vheyranda menapaki usia dua puluh satu tahun dengan ambisi yang membara di balik dinding-dinding megah University of Tokyo. Ia bukan sekadar mahasiswi yang tenggelam dalam tumpukan buku tebal, melainkan seorang pengejar kebenaran yang mulai meniti karier sebagai jurnalis paruh waktu di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan tersebut. Hari-harinya adalah perpaduan ritme yang melelahkan antara ruang kelas yang penuh dengan teori akademis dan lapangan tugas yang menuntut kecepatan berpikir serta insting tajam. Vheyranda belajar untuk menyeimbangkan dua dunia; di satu sisi, ia adalah penuntut ilmu yang disiplin, sementara di sisi lain, ia adalah pemburu berita yang tak kenal lelah, meliput berbagai isu sosial di sudut-sudut Tokyo yang mungkin luput dari perhatian publik. Ketekunannya itu tidak sia-sia, karena perlahan namun pasti, ia membangun reputasi sebagai sosok yang gigih, hingga pada akhirnya, di usia dua puluh enam tahun, dedikasinya diganjar dengan posisi sebagai jurnalis penu...

Cyber Gender-Based Violence (CGBV)

Kisah dibalik layar sosial experimen ​Di setiap fajar menyapa, rutinitas Gracia tidak lagi dimulai dengan membasuh wajah atau menghirup udara segar. Refleks pertamanya adalah meraih ponsel yakni sebuah jendela dunia yang kini terasa seperti pintu yang tidak bisa dikunci. Di balik layar gawai itu, notifikasi Facebook dan Instagram menumpuk, memaksa Gracia untuk melakukan kurasi mental sebelum benar-benar memulai hari. ​Namun, jemarinya terhenti pada satu utas pesan. Ada 15 panggilan tak terjawab dan rentetan kiriman media baik video dan foto tak senonoh dari seorang pria asing yang memamerkan tubuhnya tanpa sensor. Sebuah pesan singkat menyertai: "Aku tahu kamu suka ini." ​Apa yang dialami Gracia adalah bentuk spesifik dari pelecehan virtual yang dikenal sebagai Cyber Flashing . Data dari berbagai lembaga pemantau hak digital menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: ​ Epidemi Tanpa Suara: Berdasarkan laporan Plan International , sekitar 58% anak perempuan dan perempuan mud...