Berdasarkan data hisab BMKG untuk pengamatan yang dilakukan kemarin petang (Kamis, 19 Maret 2026), kondisi astronomisnya adalah:
• Ketinggian Hilal: Berkisar antara -0,64° di Merauke hingga 0,84° di Sabang. Secara teknis, ini sangat rendah dan berada di bawah ufuk atau nyaris sejajar dengan garis cakrawala.
• Elongasi: Jarak sudut antara Bulan dan Matahari berada di rentang 2,15° sampai 2,59°.
• Umur Bulan: Saat matahari terbenam kemarin, umur bulan baru sekitar 2 hingga 5 jam.
• Kesimpulan BMKG: Secara fisis-astronomis, hilal mustahil untuk dilihat (Imkanur Rukyat tidak terpenuhi) karena cahayanya masih terlalu lemah dan tertutup oleh cahaya senja (syafaq).
2. Analisis Visibilitas Menurut Teknologi AI
Dalam menganalisis visibilitas, sistem Ai google gemini, memproses model matematika yang mempertimbangkan kontras cahaya. Berikut adalah poin hasil analisanya:
• Faktor Kontras (Luminansi)
Cahaya hilal hanya akan terlihat jika tingkat kecerahannya melebihi ambang batas cahaya latar langit setelah matahari terbenam. Dengan elongasi hanya sekitar 2°, bagian bulan yang memantulkan cahaya matahari (fix-angle) sangat tipis, sehingga sensor optik tercanggih sekalipun akan kesulitan membedakannya dari gangguan atmosfer.
• Gangguan Atmosfer
Algoritma Ai Goole Gemini memperhitungkan ketebalan atmosfer di ufuk rendah. Pada ketinggian di bawah 3°, cahaya bulan harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal, yang menyebabkan pelemahan cahaya (ekstingsi) dan pembiasan yang tinggi.
• Kesimpulan Analisis Sistem
Secara objektif, probabilitas visibilitas hilal pada Kamis petang adalah 0% (Mustahil). Oleh karena itu, secara sistemik, hasil yang paling akurat adalah menggenapkan bulan Ramadan menjadi 30 hari, sehingga 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Maka timbul pertanyaan baru yang membuat saya sedikit penasaran,
Kenapa Hisab Wujudul Hilal berbeda dengan hitungan BMKG?
Perbedaan ini sebenarnya bukan karena salah satu pihak salah menghitung posisi bulan, melainkan karena kriteria "batas aman" yang mereka gunakan berbeda. Secara matematis, baik BMKG maupun Muhammadiyah (yang menggunakan Wujudul Hilal) melihat angka yang sama, namun kesimpulannya berbeda.
Berikut adalah perbandingannya agar lebih mudah dipahami:
1. Hisab Wujudul Hilal (Prinsip Kepastian Matematis)
Metode ini digunakan oleh Muhammadiyah. Prinsip utamanya adalah asal bulan sudah "ada" (wujud), maka bulan baru sudah dimulai.
• Syarat Utama: Tiga hal harus terjadi secara berurutan:
1. Konjungsi (Ijtima') sudah terjadi sebelum matahari terbenam.
2. Matahari sudah terbenam.
3. Saat matahari terbenam, posisi bulan berada di atas ufuk (meskipun hanya sedikit, misalnya 0,1°).
• Kesimpulan: Karena pada Kamis petang kemarin posisi bulan sudah berada di atas ufuk (walaupun sangat rendah), maka menurut metode ini, Ramadan sudah selesai dan hari ini adalah Lebaran.
2. Kriteria MABIMS/BMKG (Prinsip Visibilitas Logis)
BMKG dan Pemerintah menggunakan kriteria yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Prinsipnya adalah hilal tidak hanya harus "ada", tapi harus mungkin untuk dilihat (Imkanur Rukyat).
• Syarat Utama: Berdasarkan penelitian astronomi bertahun-tahun, hilal mustahil dilihat mata manusia atau teleskop jika posisinya terlalu rendah. Syarat minimalnya adalah:
- Ketinggian Hilal: Minimal 3°.
- Elongasi (jarak sudut): Minimal 6,4°.
• Kondisi Kemarin: Posisi bulan kemarin hanya berada di kisaran 0° hingga 1°. Artinya, meskipun bulan secara matematis "sudah ada", cahayanya masih terlalu redup dan tertutup silau matahari (syafaq) sehingga tidak mungkin terlihat.
• Kesimpulan: Karena tidak mungkin dilihat, maka bulan Ramadan digenapkan (Istikmal) menjadi 30 hari.
Komentar
Posting Komentar