Langsung ke konten utama

Diskusi Bapak Prabowo Subianto dengan enam orang ahli dan tokoh

Sangat menarik menonton diskusi Bapak Prabowo Subianto dengan enam orang ahli dan tokoh dari berbagai bidang. saya akan menyebutkan satu persatu daftar panelis yang hadir dalam acara tersebut:

  1. Retno Pinasti (Mbak Eno): Pemimpin Redaksi Liputan 6 SCTV dan Indosiar, yang juga pernah menjadi jurnalis di Voice of America (VOA).
  2. Rizal Mallarangeng (Bang Celi): Seorang analis politik dan intelektual lulusan Ohio State University.
  3. Mardigu Wowiek Prasantyo (Bossman Mardigu): Seorang pengusaha dan pengamat geopolitik yang memiliki latar belakang pendidikan psikologi terapan dan kriminologi dari San Francisco State University.
  4. Muhammad Faisal: Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, seorang pakar ekonomi lulusan Queensland dan Melbourne University.
  5. Najwa Shihab (Mbak Nana): Jurnalis senior dan pendiri Narasi, lulusan Fakultas Hukum UI dan Melbourne Law School.
  6. Muhamad Chatib Basri (Bang Dede): Mantan Menteri Keuangan RI dan mantan Kepala BKPM, yang saat ini aktif mengajar di Harvard University.

Setalah menonton video sharing tersebut dengan durasi yang cukup lama, saya sangat tertarik pada bahasan mengenai pangan, berdasarkan video tersebut, Bapak Prabowo Subianto menekankan beberapa poin krusial mengenai fokus beliau pada sektor pangan:

  • Pangan sebagai Kebutuhan Dasar Paling Utama: Beliau menyatakan bahwa pangan adalah kebutuhan paling mendasar dalam peradaban manusia (basic need), bahkan lebih mendasar daripada kebutuhan keamanan dari ancaman lainnya. Beliau mengutip prinsip "The hungry stomach cannot wait" (perut yang lapar tidak bisa menunggu).
  • Hubungan Pangan dengan Kemerdekaan dan Keamanan: Prabowo melihat sejarah dunia menunjukkan bahwa banyak konflik dan perang bermula dari perebutan sumber pangan, air, dan lahan subur. Oleh karena itu, beliau menegaskan bahwa jika Indonesia ingin benar-benar merdeka, negara harus mampu menjamin sumber pangannya sendiri.
  • Kritik terhadap Mazhab Globalisasi: Beliau berbeda pandangan dengan pihak yang menganggap Indonesia cukup membeli pangan dari luar negeri demi efisiensi. Menurutnya, ketergantungan ini berbahaya karena gangguan global (seperti perang di Ukraina yang menghambat pasokan gandum) akan langsung memukul ketahanan pangan nasional.
  • Deregulasi Distribusi Pupuk: Sebagai langkah nyata, beliau menyoroti adanya 145 peraturan yang menghambat distribusi pupuk. Beliau melakukan deregulasi besar-besaran agar pupuk subsidi bisa langsung sampai dari pabrik ke Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) hanya dengan menggunakan KTP, tanpa birokrasi yang berbelit.
  • Hilirisasi Produk Pertanian: Beliau menekankan pentingnya mengolah hasil bumi di dalam negeri (hilirisasi) daripada sekadar mengekspor bahan mentah, seperti pada komoditas kelapa, kopi, dan cokelat, agar nilai tambahnya dirasakan oleh rakyat Indonesia.
  • Swasembada Pangan sebagai Strategi Inti: Di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu, beliau menegaskan kembali komitmennya untuk mencapai swasembada pangan, energi, dan air sebagai prioritas tertinggi pemerintahannya.

​Video lengkapnya dapat kamu saksikan di: https://www.youtube.com/watch?v=c4ezUakXFWs


gambar di SC dari YouTube Bosman Mardigu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perhitungan BMKG dan Algoritma Google Gemini Ai mengenai Hilal

Iseng bertanya pada Ai mengenai teknis perhitungan hilal dan tentu ini sangat menarik karena melibatkan data presisi tinggi dari sisi sains ( BMKG ) dan data pengolahan algoritma ( google gemini ). Berikut adalah rincian teknis mengenai visibilitas hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 H: 1. Data Teknis BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) ​Berdasarkan data hisab BMKG untuk pengamatan yang dilakukan kemarin petang ( Kamis, 19 Maret 2026 ), kondisi astronomisnya adalah: • ​ Ketinggian Hilal: Berkisar antara -0,64° di Merauke hingga 0,84° di Sabang . Secara teknis, ini sangat rendah dan berada di bawah ufuk atau nyaris sejajar dengan garis cakrawala. • ​ Elongasi: Jarak sudut antara Bulan dan Matahari berada di rentang 2,15° sampai 2,59° . • ​ Umur Bulan: Saat matahari terbenam kemarin, umur bulan baru sekitar 2 hingga 5 jam . •  Kesimpulan BMKG: Secara fisis-astronomis, hilal mustahil untuk dilihat ( Imkanur Rukyat tidak terpenuhi ) karena cahayanya masih terla...

Mengenal Metode "Satu Hilal untuk Semua": Cara Mazhab Maliki Menentukan 1 Syawal

Pernahkah Kamu membayangkan jika satu orang melihat bulan di ujung sana, lalu seluruh dunia ikut berlebaran? Nah, kurang lebih itulah gambaran unik dari cara Imam Malik menentukan jatuhnya 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri. Di Indonesia, kita sering mendengar perbedaan metode antara Rukyat (melihat bulan) dan Hisab (perhitungan astronomi). Namun, Mazhab Maliki memiliki aturan main yang cukup berbeda dan menarik untuk dipelajari. Ayo, kita bedah dengan pembahasan yang sederhana! 1. Tetap berpegang pada "Rukyatul Hilal" Prinsip dasar Mazhab Maliki tetap sama dengan mayoritas umat Islam lainnya, yaitu melihat bulan secara langsung. Jika pada malam ke-29 Ramadan hilal ( bulan sabit tipis ) terlihat, maka besoknya adalah lebaran. Jika tidak terlihat karena mendung, maka puasa digenapkan menjadi 30 hari ( Istikmal ). 2. Konsep "Satu Wilayah Melihat, Semua Ikut" Konsep ini merupakan poin paling khas dari Mazhab Maliki. Mereka menganut prinsip Mudarik al-Qamar atau kes...