Pernahkah kamu merasa bingung saat sedang asyik menyiapkan bumbu coto di malam takbiran versi pemerintah, tapi tiba-tiba mendengar suara takbir menggema dari masjid sebelah rumah? Di Makassar dan sekitarnya (seperti Gowa dan Maros), fenomena "lebaran duluan" bukan lagi hal baru.
Bagi sebagian orang, ini mungkin dianggap polemik. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke sisi riset dan tradisinya, ternyata ada alasan logis dan teologis di baliknya. Ayo, kita bedah gaes!
1. Jemaah An-Nadzir: "Membaca" Tanda Alam lewat Air Laut
Salah satu kelompok yang paling sering menjadi sorotan adalah Jemaah An-Nadzir di Gowa. Mereka punya cara yang sangat unik dan berbeda dari metode Rukyat (teropong) pemerintah.
Bukannya melihat bulan dengan alat canggih, mereka justru mengamati air laut.
• Logikanya: Mereka percaya ada hubungan gravitasi yang kuat antara bulan dan bumi. Saat pergantian bulan terjadi, air laut akan mencapai titik pasang tertingginya.
• Tanda Fisik: Selain air laut, mereka juga mengamati fenomena alam lain seperti perjalanan bulan di waktu fajar dan perubahan warna langit. Bagi mereka, alam sudah memberikan "sinyal" yang jelas kapan Ramadan berakhir.
2. Kuatnya Akar Tarekat Khalwatiyah
Di sisi lain, Makassar dan Maros adalah basis besar Tarekat Khalwatiyah. Di sini, ketaatan kepada Mursyid (Guru Besar) adalah kunci.
Beberapa cabang tarekat ini menggunakan Hisab Falakiah (perhitungan astronomi tradisional) yang bersumber dari kitab-kitab klasik seperti Tuhfatul Raghibin. Perhitungan ini seringkali sudah menetapkan tanggal Idulfitri jauh-jauh hari. Bagi para pengikutnya, mengikuti keputusan sang guru adalah bentuk ketaatan spiritual yang mutlak.
3. Mengapa Ini Bisa Terjadi?
Sederhananya, ini adalah soal perbedaan parameter:
• Pemerintah: Menggunakan standar visibilitas (apakah bulan sudah cukup tinggi untuk dilihat?).
• Kelompok Tertentu: Menggunakan standar eksistensi (apakah bulan baru sudah lahir secara fisik, meskipun belum terlihat?).
Penutup: Bukan Perpecahan, Tapi Kekayaan
Polemik perbedaan Idulfitri di Makassar sebenarnya mengajarkan kita satu hal: Toleransi. Meskipun berbeda hari dalam merayakan kemenangan, masyarakat di sini sudah lama hidup berdampingan dengan damai.
Perbedaan ini adalah bukti bahwa Islam di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan, memiliki akar tradisi yang sangat dalam dan beragam. Jadi, kalau ada yang lebaran duluan, ya tidak apa-apa. Toh, esensi Idulfitri adalah kembali ke fitrah dan saling memaafkan, bukan? "Bagaimana suasana lebaran di daerah kalian? Apakah ada tradisi unik yang berbeda juga?"
Komentar
Posting Komentar