Pernah ndak, pas ki' lagi asyik-asyiknya siapkan bumbu rendang dan masak burasa, tiba-tiba di grup WhatsApp keluarga ta' heboh: "Weh, Muhammadiyah besok Lebaran mi, tapi Pemerintah katanya lusa pi?" Nah, fenomena beda hari Lebaran di Indonesia ini memang sudah jadi "langganan" tiap beberapa tahun sekali. Buat kita yang awam, kadang muncul pertanyaan: "Boleh kah beda-beda begitu? Terus mana yang paling benar?"
Ayok, kita bedah pelan-pelan pakai bahasa yang ringan!
1. Masalahnya Ada di "Cara Meliat Bulan"
Inti dari perbedaan ini sebenarnya cuma soal cara menentukan kapan bulan baru (1 Syawal) itu muncul. Di Indonesia, ada dua metode utama:
• Tim "Lihat Langsung" (Rukyat): Kelompok ini berpegang pada prinsip: "Pokoknya harus kelihatan mata!". Kalau sore hari di tanggal 29 Ramadan bulan sabit (hilal) nda kelihatan, entah itu karena mendung atau memang posisinya masih terlalu rendah, maka puasa ta' digenapi menjadi 30 hari.
• Tim "Hitung Cepat" (Hisab): Kelompok ini pakai ilmu astronomi atau matematika. Mereka nda perlu menunggu sore hari untuk mengintip langit. Selama hitungan matematis menunjukkan posisi bulan sudah di atas cakrawala (meskipun cuma ca'ddi ji dan nda terlihat mata), mereka anggap besok sudah bulan baru.
2. Standar "Ketinggian" yang Berbeda
Nah, ini yang sering bikin beda hasil. Pemerintah ta' punya standar: bulan itu dianggap "ada" kalau tingginya minimal 3 derajat. Kalau posisinya cuma 1 atau 2 derajat, Pemerintah pastimi bilang:
"Belum sah, lanjut ki puasa 1 hari lagi."
Di sisi lain, ada saudara-saudara ta' yang merasa: "Mau 0,5 derajat atau 1 derajat, yang penting posisi bulannya sudah di atas garis laut, nassami itu sudah ganti bulan." Inilah kenapa kadang ada yang Lebaran duluan.
3. Boleh kah Beda Menurut Islam?
Dalam Islam, perbedaan pendapat di kalangan ulama itu hal yang lumrah dan disebut sebagai Ijtihad.
Bayangkan seperti mau ki' pergi ke suatu tempat. Ada yang memilih lewat jalan tol supaya cepat (Hisab), ada yang milih lewat jalan biasa karena ingin menikmati pemandangan dan memastikan jalannya benar (Rukyat). Keduanya punya alasan yang kuat dan dasar hukum (Hadis) yang sama-sama valid.
Ulama sepakat kalau perbedaan ini bukan karena ada yang "salah" atau "sesat", tapi karena perbedaan cara memahami pesan Nabi SAW tentang cara melihat hilal.
4. Terus, Kita Ikut yang Mana?
Ini poin paling penting: Pilih yang membuat hati ta tenang.
• Kalau yakin ki dengan hasil sidang Isbat Pemerintah karena ingin kebersamaan nasional, itu benar.
• Kalau mengikuti ki organisasi atau guru agama yang kita yakini ilmunya, itu juga benar.
Yang nda boleh itu adalah ribut dan merasa paling benar sendiri. Lebaran itu momen kemenangan. Sayang sekali kalau kemenangan kita ternoda cuma gara-gara debat kusir soal derajat bulan? Mau besok atau lusa, yang penting rendang, burasa, coto masak mi semua, maaf-maafannya tulus, dan ibadah Ramadannya diterima.
Komentar
Posting Komentar