Langsung ke konten utama

Postingan

Diskusi Bapak Prabowo Subianto dengan enam orang ahli dan tokoh

Sangat menarik menonton diskusi Bapak Prabowo Subianto dengan enam orang ahli dan tokoh dari berbagai bidang. saya akan menyebutkan satu persatu daftar panelis yang hadir dalam acara tersebut: ​ Retno Pinasti (Mbak Eno): Pemimpin Redaksi Liputan 6 SCTV dan Indosiar, yang juga pernah menjadi jurnalis di Voice of America (VOA). ​ Rizal Mallarangeng (Bang Celi): Seorang analis politik dan intelektual lulusan Ohio State University. ​ Mardigu Wowiek Prasantyo (Bossman Mardigu): Seorang pengusaha dan pengamat geopolitik yang memiliki latar belakang pendidikan psikologi terapan dan kriminologi dari San Francisco State University. ​ Muhammad Faisal: Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, seorang pakar ekonomi lulusan Queensland dan Melbourne University. ​ Najwa Shihab (Mbak Nana): Jurnalis senior dan pendiri Narasi, lulusan Fakultas Hukum UI dan Melbourne Law School. ​ Muhamad Chatib Basri (Bang Dede): Mantan Menteri Keuangan RI dan mantan Kepala BKPM,...
Postingan terbaru

Perhitungan BMKG dan Algoritma Google Gemini Ai mengenai Hilal

Iseng bertanya pada Ai mengenai teknis perhitungan hilal dan tentu ini sangat menarik karena melibatkan data presisi tinggi dari sisi sains ( BMKG ) dan data pengolahan algoritma ( google gemini ). Berikut adalah rincian teknis mengenai visibilitas hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 H: 1. Data Teknis BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) ​Berdasarkan data hisab BMKG untuk pengamatan yang dilakukan kemarin petang ( Kamis, 19 Maret 2026 ), kondisi astronomisnya adalah: • ​ Ketinggian Hilal: Berkisar antara -0,64° di Merauke hingga 0,84° di Sabang . Secara teknis, ini sangat rendah dan berada di bawah ufuk atau nyaris sejajar dengan garis cakrawala. • ​ Elongasi: Jarak sudut antara Bulan dan Matahari berada di rentang 2,15° sampai 2,59° . • ​ Umur Bulan: Saat matahari terbenam kemarin, umur bulan baru sekitar 2 hingga 5 jam . •  Kesimpulan BMKG: Secara fisis-astronomis, hilal mustahil untuk dilihat ( Imkanur Rukyat tidak terpenuhi ) karena cahayanya masih terla...

Mengenal Metode "Satu Hilal untuk Semua": Cara Mazhab Maliki Menentukan 1 Syawal

Pernahkah Kamu membayangkan jika satu orang melihat bulan di ujung sana, lalu seluruh dunia ikut berlebaran? Nah, kurang lebih itulah gambaran unik dari cara Imam Malik menentukan jatuhnya 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri. Di Indonesia, kita sering mendengar perbedaan metode antara Rukyat (melihat bulan) dan Hisab (perhitungan astronomi). Namun, Mazhab Maliki memiliki aturan main yang cukup berbeda dan menarik untuk dipelajari. Ayo, kita bedah dengan pembahasan yang sederhana! 1. Tetap berpegang pada "Rukyatul Hilal" Prinsip dasar Mazhab Maliki tetap sama dengan mayoritas umat Islam lainnya, yaitu melihat bulan secara langsung. Jika pada malam ke-29 Ramadan hilal ( bulan sabit tipis ) terlihat, maka besoknya adalah lebaran. Jika tidak terlihat karena mendung, maka puasa digenapkan menjadi 30 hari ( Istikmal ). 2. Konsep "Satu Wilayah Melihat, Semua Ikut" Konsep ini merupakan poin paling khas dari Mazhab Maliki. Mereka menganut prinsip Mudarik al-Qamar atau kes...

Lebaran Kok Bisa Beda? Ayo, Pahami Biar Nda Bingung Lagi!

Pernah ndak, pas ki' lagi asyik-asyiknya siapkan bumbu rendang dan masak burasa, tiba-tiba di grup WhatsApp keluarga ta' heboh: "Weh, Muhammadiyah besok Lebaran mi, tapi Pemerintah katanya lusa pi?" Nah, fenomena beda hari Lebaran di Indonesia ini memang sudah jadi "langganan" tiap beberapa tahun sekali. Buat kita yang awam, kadang muncul pertanyaan: "Boleh kah beda-beda begitu? Terus mana yang paling benar?" Ayok, kita bedah pelan-pelan pakai bahasa yang ringan! 1. Masalahnya Ada di "Cara Meliat Bulan" Inti dari perbedaan ini sebenarnya cuma soal cara menentukan kapan bulan baru (1 Syawal) itu muncul. Di Indonesia, ada dua metode utama: • Tim "Lihat Langsung" (Rukyat): Kelompok ini berpegang pada prinsip: "Pokoknya harus kelihatan mata!" . Kalau sore hari di tanggal 29 Ramadan bulan sabit (hilal) nda kelihatan, entah itu karena mendung atau memang posisinya masih terlalu rendah, maka puasa ta' digenapi menjadi 30...

Lebaran "Duluan" di Makassar: Antara Fenomena Alam, Tradisi Tarekat, dan Keberagaman

Pernahkah kamu merasa bingung saat sedang asyik menyiapkan bumbu coto di malam takbiran versi pemerintah, tapi tiba-tiba mendengar suara takbir menggema dari masjid sebelah rumah? Di Makassar dan sekitarnya (seperti Gowa dan Maros), fenomena "lebaran duluan" bukan lagi hal baru. Bagi sebagian orang, ini mungkin dianggap polemik. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke sisi riset dan tradisinya, ternyata ada alasan logis dan teologis di baliknya. Ayo, kita bedah gaes! 1. Jemaah An-Nadzir: "Membaca" Tanda Alam lewat Air Laut Salah satu kelompok yang paling sering menjadi sorotan adalah Jemaah An-Nadzir di Gowa. Mereka punya cara yang sangat unik dan berbeda dari metode Rukyat (teropong) pemerintah. Bukannya melihat bulan dengan alat canggih, mereka justru mengamati air laut . • Logikanya : Mereka percaya ada hubungan gravitasi yang kuat antara bulan dan bumi. Saat pergantian bulan terjadi, air laut akan mencapai titik pasang tertingginya. • Tanda Fisik : Selain air ...

Cyber Gender-Based Violence (CGBV)

Kisah dibalik layar sosial experimen ​Di setiap fajar menyapa, rutinitas Gracia tidak lagi dimulai dengan membasuh wajah atau menghirup udara segar. Refleks pertamanya adalah meraih ponsel yakni sebuah jendela dunia yang kini terasa seperti pintu yang tidak bisa dikunci. Di balik layar gawai itu, notifikasi Facebook dan Instagram menumpuk, memaksa Gracia untuk melakukan kurasi mental sebelum benar-benar memulai hari. ​Namun, jemarinya terhenti pada satu utas pesan. Ada 15 panggilan tak terjawab dan rentetan kiriman media baik video dan foto tak senonoh dari seorang pria asing yang memamerkan tubuhnya tanpa sensor. Sebuah pesan singkat menyertai: "Aku tahu kamu suka ini." ​Apa yang dialami Gracia adalah bentuk spesifik dari pelecehan virtual yang dikenal sebagai Cyber Flashing . Data dari berbagai lembaga pemantau hak digital menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: ​ Epidemi Tanpa Suara: Berdasarkan laporan Plan International , sekitar 58% anak perempuan dan perempuan mud...

Simbol Kolosara

 Kalosara adalah simbol adat masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara yang memiliki nilai filosofis dan budaya tinggi. Berbentuk lingkaran dari rotan yang dipilin, kalosara digunakan untuk menyelesaikan konflik, menjaga persatuan, dan mempersatukan masyarakat. Simbol ini menjadi bagian tak terpisahkan dari hukum adat dan tradisi Tolaki. Filosofi dan Makna Kalosara Lingkaran: Melambangkan harmoni, persatuan, dan keabadian. Bentuk lingkaran mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan (dunia atas), manusia lain (dunia tengah), dan alam semesta (dunia bawah). Komponen Utama: Kalosara biasanya dialasi kain putih (simbol kesucian) dan ditempatkan di atas wadah segi empat (simoleuwa), simbol struktur dan stabilitas. Musyawarah: Dalam penggunaannya, kalosara ditempatkan di tengah forum adat atau mediasi. Para pihak yang berselisih duduk di kedua sisi, menandakan perlunya musyawarah untuk menyelesaikan perselisihan. Sejarah Menurut tradisi, kalosara pertama kali diperkenalkan oleh Wekoila, raj...